Minimalism and Frugal Living
Minimalism dan frugal living benar-benar membantu perjalanan FIRE saya.
Minimalism dan frugal living sebenarnya memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah intentionality: keduanya sama-sama berhati-hati ketika melakukan sesuatu. Bedanya, minimalism berfokus pada owning, sedangkan frugal living berfokus pada spending. Orang minimalis akan bertanya, “Apakah barang yang saya miliki ini memang saya butuhkan dan memberi kebahagiaan untuk diri saya? Jika tidak, barang ini akan saya singkirkan.” Sedangkan orang yang menjalankan frugal living akan bertanya, “Apakah barang ini memang saya butuhkan dan layak saya beli? Jika tidak, saya tidak membelinya.”
Minimalism dan frugal living adalah anti-consumerism. Melalui keduanya kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tidak butuh barang berlebih untuk bisa bahagia.
Sayangnya, yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Orang berlomba membeli barang yang tidak mereka butuhkan dengan uang yang tidak mereka punya untuk membuat terkesan orang yang tidak mereka sukai. “Gaya hidup hemat sudah ketinggalan zaman”, “nikmati hidup”, “uang jangan terlalu ditumpuk” adalah sebagian kata-kata yang mereka ucapkan. Bagi saya, untuk apa “menikmati hidup” jika dilakukan dengan berutang? Itu hanyalah menunda penderitaan. Mereka membuat kesenangan sesaat untuk diri saat ini dan derita untuk diri di masa depan. Ujung-ujungnya, ketika uang mereka habis dihambur-hamburkan, mereka meminjam uang kepada orang yang mereka bilang terlalu hemat. Ironi.
Saya pribadi sangat suka gaya hidup sederhana, minimalis, dan frugal. Orang-orang sukses pun demikian. Ini jawaban Mark Zuckerberg ketika ditanya mengapa ia mengenakan kaus dengan model dan warna yang sama setiap hari:
“I really want to clear my life to make it so that I have to make as few decisions as possible about anything except how to best serve this community.”
Mark Zuckerberg
Mengapa menjalani minimalism dan frugal living?
- Karena kita tahu konsep hedonic treadmill. Barang apa pun yang kita beli hanya berpengaruh sesaat pada level kebahagiaan kita. Setelah cukup terbiasa dengan barang itu, tingkat kebahagiaan akan kembali ke titik awalnya. Jika dilakukan berulang-ulang, bisa jadi muncul kecanduan untuk merasakan sensasi kebahagiaan sesaat tersebut.
- Karena banyaknya pilihan membuat kita mengalami decision fatigue, yaitu kondisi ketika energi terkuras karena banyaknya pilihan yang harus dibuat setiap hari. Membuat pilihan berarti menganalisis kelebihan dan kekurangan setiap opsi. Ketika dihadapkan pada banyak pilihan kecil, seperti pakaian apa yang dikenakan, makanan apa yang disantap, atau tugas apa yang dikerjakan, energi kita akan habis.
- Karena pada dasarnya diri kita tidak sendiri. Ada diri di masa lalu, diri saat ini, dan diri di masa depan.
- Diri di masa lalu adalah diri yang sudah tidak bisa kita ubah, bagaimanapun caranya. Ia sudah menjadi kenangan dan sejarah yang tidak bisa kita kendalikan.
- Diri saat ini adalah diri yang sedang kita jalani hari ini, jam ini, detik ini. Kita memiliki kendali penuh terhadapnya. Apa pun bisa kita lakukan terhadap diri saat ini.
- Diri di masa depan ada di masa yang akan datang. Ia masih abu-abu. Namun berbeda dengan diri di masa lalu, diri di masa depan sangat dipengaruhi oleh diri saat ini. Kualitas diri kita di masa depan sangat ditentukan oleh diri kita saat ini. Orang yang boros dan memiliki cash flow “lebih besar pasak daripada tiang” saat ini akan menyulitkan dirinya di masa depan.
- Karena daripada menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat dan pamer kepada orang lain, lebih baik menggunakannya untuk sesuatu yang lebih berharga. Barang yang kita miliki bukanlah penentu hebat atau tidaknya seseorang.
- Karena lebih baik menjadi kaya daripada terlihat kaya.
Konsultasi satu sesi
Mau ngobrol soal keuanganmu?
· · online atau tatap muka