The Psychology of Money – Morgan Housel

Luck vs risk
Keberuntungan dan risiko berperan penting dalam hidup kita, termasuk dalam urusan uang, walaupun keduanya adalah hal yang tidak bisa kita kendalikan.
“Bill Gates went to one of the only high schools in the world that had a computer.”
“Gates is not shy about what this meant. ‘If there had been no Lakeside, there would have been no Microsoft,’ he told the school’s graduating class in 2005.”
Morgan Housel menjelaskan luck vs risk lewat cerita Bill Gates dan temannya, Kent Evans. Pada dasarnya Gates memang anak yang cerdas dan mahir menggunakan komputer. Namun, jika ia tidak bersekolah di Lakeside School, ia tidak mungkin bisa seperti sekarang.
“In 1968 there were roughly 303 million high-school-age people in the world, according to the UN.
About 18 million of them lived in the United States.
About 270,000 of them lived in Washington state.
A little over 100,000 of them lived in the Seattle area.
And only about 300 of them attended Lakeside School.
Start with 303 million, end with 300.”
Di tahun itu komputer belum setenar sekarang. Bahkan banyak universitas di Amerika sama sekali belum memiliki komputer. Dari 303 juta anak usia SMA di dunia, hanya 300 anak yang berkesempatan menggunakan komputer di masa-masa awal, dan salah satunya adalah Bill Gates. Lihatlah betapa beruntungnya Gates.
Di sisi lain, Kent Evans, sahabat Bill Gates, juga sangat ahli dalam komputer. Seandainya ia masih hidup, mungkin ia akan menjadi orang hebat dan terkenal seperti Gates. Sayangnya, ia meninggal saat mendaki gunung. Peluang seorang anak SMA meninggal di gunung adalah satu banding satu juta.
Bill Gates mendapatkan keberuntungan, Kent Evans mendapatkan risiko.
Keberuntungan dan risiko adalah dua hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ada kuasa yang lebih besar yang mengatur semuanya. Tugas kita hanyalah melakukan apa yang ada dalam lingkar kendali kita.
Begitu juga dengan keuangan. Kita tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu, bagaimana kondisi ekonomi ke depannya. Tidak ada yang bisa menjamin kondisi finansial tahun depan akan baik-baik saja, atau justru sebaliknya.
Never enough
“At a party given by a billionaire on Shelter Island, Kurt Vonnegut informs his pal, Joseph Heller, that their host, a hedge fund manager, had made more money in a single day than Heller had earned from his wildly popular novel Catch-22 over its whole history. Heller responds, ‘Yes, but I have something he will never have… enough.’”
Fear and greed. Ketakutan dan keserakahan adalah dua hal yang sering membuat orang salah bertindak dalam urusan keuangan. Alasan utama banyak pejabat korupsi atau pengusaha berbuat curang adalah karena mereka tidak pernah merasa cukup dengan apa yang mereka miliki. Mereka selalu ingin lebih. Penyebabnya bisa beragam, tetapi yang utama adalah kebiasaan membandingkan apa yang mereka miliki dengan milik orang lain.
- Orang yang belum bekerja iri pada orang yang sudah bekerja dengan gaji UMR.
- Orang dengan gaji UMR tidak puas dan iri pada orang yang bergaji puluhan juta.
- Orang dengan gaji puluhan juta iri pada pedagang yang beromzet ratusan juta.
- Pedagang dengan omzet ratusan juta iri pada pengusaha yang beromzet miliaran rupiah.
- Pengusaha dengan omzet miliaran rupiah iri pada founder startup yang menghasilkan triliunan rupiah.
Daftar ini tidak akan pernah habis. Selalu ada orang yang lebih dari kita. Tidak ada gunanya membandingkan diri dengan orang lain. Masing-masing dari kita punya kondisi dan jalan hidup yang berbeda.
To be continued, hehe.
Konsultasi satu sesi
Mau ngobrol soal keuanganmu?
· · online atau tatap muka