Cash Flow or Net Worth?
Mana yang lebih utama: cash flow atau net worth?
Secara sederhana, cash flow adalah aliran uang keluar dan masuk seseorang, yang menunjukkan seberapa besar pendapatan dibandingkan pengeluaran pribadinya. Cash flow positif berarti pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Sebaliknya, cash flow negatif berarti pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.
Cash flow = pendapatan − pengeluaran
Sementara itu, net worth adalah total kekayaan bersih seseorang, yaitu total semua aset yang dimiliki dikurangi total utang.
Net worth = total aset − total utang
Jadi, mana yang lebih utama dan harus diprioritaskan: memperbesar net worth atau memperbesar cash flow?
Sebenarnya kedua konsep ini saling berhubungan erat. Semakin besar cash flow positif seseorang, semakin besar pula net worth-nya. Begitu pula sebaliknya.
Pertanyaan ini sempat saya renungkan beberapa bulan lalu:
“Lebih baik memperbesar net worth dengan menyimpan uang di rekening dan investasi, atau memperbesar cash flow dengan membuka cabang bisnis baru?”
Opportunity cost
Masa muda adalah waktu terbaik untuk mengambil risiko (yang terukur). Di masa ini tanggungan kita masih sedikit, energi kita masih banyak untuk mengerjakan banyak hal sekaligus, dan kita masih mampu hidup sederhana sambil menabung sebanyak mungkin. Inilah masa terbaik untuk memperbesar peluang.
Bagi saya, 500 juta adalah uang yang sangat besar. Belum pernah dalam hidup saya punya uang sebanyak itu. Uang itu bisa saja saya pakai untuk membeli mobil pribadi atau rumah sederhana.
Jika diinvestasikan di aset dengan risiko rendah, imbal hasilnya sekitar 10% per tahun. Artinya, dari 500 juta kita akan mendapat tambahan 50 juta per tahun, atau sekitar 4.167.000 per bulan, tanpa mengurangi uang yang diinvestasikan. Angka itu sangat menggiurkan. Tanpa berbuat apa pun, kita sudah mendapat penghasilan pasif di atas UMR Kendari, yang bahkan akan bergulung secara eksponensial setiap tahun.
Tapi setiap keputusan selalu diikuti opportunity cost.
Jika saya memilih menyimpan uang itu di aset investasi, ada peluang yang hilang karena tidak menggunakannya untuk memperbesar bisnis. Walaupun hitungannya tetap menguntungkan jika diinvestasikan saja, ketika opportunity cost ikut dipertimbangkan, hasilnya bisa rugi secara potensi.
Karena itu, saya memilih memperbesar cash flow dengan mengurangi net worth untuk membangun aliran pendapatan yang lebih besar. Memulai dari nol lagi. Tentu keputusan ini diikuti risiko, yaitu kerugian. Uang sebanyak itu bisa saja habis sia-sia. Tapi begitulah bisnis, tidak ada yang pasti.
Risk = opportunity.
Ada hubungan erat antara risiko dan peluang. Semakin besar risikonya, semakin besar pula peluang yang bisa didapatkan.
Dari segi risiko, ada kemungkinan uang 500 juta ini habis tak bersisa. Tapi dari sisi peluang, uang yang sama bisa kembali hanya dalam waktu satu tahun.
Risiko yang terukur
Konsep ini tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah oleh semua orang. Berani mengambil risiko bukan berarti asal nekat, melainkan berani mengambil risiko yang terukur: risiko yang, kalaupun hal buruk terjadi, hidup tetap baik-baik saja.
Apa dampaknya jika cabang ke-3 ini gagal (semoga tidak)? Yaaa, rugi.
Tapi insya Allah hidup akan tetap baik-baik saja. Tidak akan banyak yang berubah. Masih ada gaji bulanan yang lumayan besar dari saya dan istri. Alasan saya berani berbisnis adalah karena saya punya “jaring pengaman” yang bisa menangkap saya kalau saya jatuh.
Itulah pentingnya punya stable job sebelum berbisnis. Pekerjaan yang stabil memberi rasa aman dan keberanian untuk mengambil peluang.
So, what’s the point?
Untuk setiap keputusan yang kamu ambil, selalu sesuaikan dulu dengan kondisi pribadimu.
Ambil risiko hanya jika kamu benar-benar siap menghadapi kemungkinan terburuk. Karena itu, bangun jaring pengamanmu terlebih dahulu: punya pekerjaan yang stabil, punya dana darurat, atau punya orang tua seperti Chairul Tanjung.
Let’s discuss!
Konsultasi satu sesi
Mau ngobrol soal keuanganmu?
· · online atau tatap muka